Gencatan Senjata Palsu: Gaza Terus Berdarah

Gencatan senjata palsu Gaza terus Berdarah

Akar masalah pada ketiadaan institusi politik global yang mengayomi seluruh umat Islam. Umat hari ini hidup dalam kondisi terpecah-pecah ke dalam sekat-sekat nasionalisme.

Oleh. Dhini S.
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-Setiap manusia berhak atas hak hidup, keamanan, dan kedaulatan di tanah air mereka sendiri. Namun, realitas yang terjadi di Gaza-Palestina justru menunjukkan kepedihan yang tak berkesudahan. Harapan akan kedamaian yang dijanjikan lewat jalur diplomasi berkali-kali runtuh oleh dentuman bom dan desing peluru. Narasi perdamaian yang digaungkan di atas meja perundingan nyatanya berbanding terbalik dengan genosida yang terus berlangsung di lapangan. Kondisi ini menegaskan bahwa diplomasi internasional seputar Gaza hanyalah ilusi yang menutupi tragedi kemanusiaan terbesar abad ini.

Dunia internasional berulang kali menyaksikan pengumuman gencatan senjata yang diklaim sebagai solusi meredakan ketegangan. Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Korban tewas akibat serangan Israel telah melampaui 1.000 jiwa sejak gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat (AS) diberlakukan pada Oktober 2025 (Al Jazeera, 18-06-2026). Angka ini menjadi bukti tak terbantahkan bahwa kesepakatan di atas kertas sama sekali tidak menghentikan tumpahnya darah kaum muslimin di Gaza.

Entitas Zionis secara konsisten melakukan pelanggaran gencatan senjata secara sistematis. Blokade, serangan udara, dan operasi militer darat tetap berjalan di tengah klaim "pemberhentian permusuhan". Ironisnya, di saat yang sama, AS sebagai penjamin dan sponsor utama Zionis terus memberikan bantuan militer dan finansial dengan cara apa pun demi menjaga superioritas militer sekutunya tersebut (Responsible Statecraft, 2026).

Fakta-fakta ini menunjukkan bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman di Gaza. Perjanjian damai yang dimediasi oleh kekuatan Barat tidak lebih dari sebuah strategi Barat meredakan opini dunia, sementara warga sipil, perempuan, dan anak-anak terus menjadi korban pembantaian yang terukur dan terencana.

Kebergantungan Fatal pada Penjajah

Kelanjutan genosida di Gaza pasca-gencatan senjata tidak boleh dipandang sebagai insiden pelanggaran biasa. Fenomena ini merupakan penegasan dari kegagalan total sistem sekuler kapitalisme dalam mewujudkan keadilan dunia.

Gencatan senjata tidak pernah dirancang untuk benar-benar menciptakan perdamaian yang hakiki. Narasi ini sengaja diproduksi oleh Barat seolah-olah sebagai strategi untuk meredakan kemarahan opini dunia atas kekejaman Zionis. Melalui jeda kemanusiaan atau gencatan senjata semu, perhatian dunia dialihkan. Sementara, di balik layar, agresi militer tetap dibiarkan berjalan untuk melenyapkan eksistensi warga Palestina secara perlahan.

Berharap pada AS sebagai mediator perdamaian adalah sebuah kesalahan fatal. Sebagai sekutu abadi Zionis, AS tidak akan pernah bisa bertindak adil. Mengandalkan institusi global buatan Barat atau negara-negara penjajah untuk menyelesaikan urusan umat Islam justru melanggengkan penjajahan itu sendiri dan mengikat tangan kaum muslimin dari melakukan perlawanan yang berarti.

Solusi Hakiki bagi Gaza-Bumi Palestina

Akar masalah yang sesungguhnya di Palestina bukanlah terletak pada seringnya pelanggaran gencatan senjata, melainkan pada ketiadaan institusi politik global yang mengayomi seluruh umat Islam. Umat hari ini hidup dalam kondisi terpecah-pecah ke dalam sekat-sekat nasionalisme. Umat tidak memiliki Junnah (perisai) yang kuat yaitu Khilafah Islamiyyah yang mampu menggerakkan kekuatan nyata untuk membela darah dan kehormatan kaum muslimin yang tertindas.

Islam memandang bumi Palestina di mana di dalamnya terdapat Masjidil Aqsa sebagai tanah kharajiyah yang sakral dan milik seluruh umat Islam. Oleh karena itu, penyelesaian masalah Palestina tidak bisa diserahkan pada hukum internasional yang mandul atau negosiasi yang menguntungkan penjajah.

Umat Islam tidak boleh lagi berharap dan menggantungkan nasibnya pada kaum kafir dan musuh-musuh Islam. Allah Swt. telah memperingatkan di dalam Al-Qur'an:
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela kepadamu (Muhammad) sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)'…"
(QS. Al-Baqarah: 120)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan dan pembelaan sejati tidak akan pernah lahir dari mereka yang memusuhi Islam. Solusi untuk Palestina harus diambil dari syariat Islam yang kafah dalam setiap lini kehidupan.

Satu-satunya solusi syar'i untuk membebaskan Palestina dari cengkeraman penjajah adalah melalui jihad fii sabilillah. Ini adalah kewajiban yang mengikat seluruh kaum muslimin. Khususnya para pemilik kekuatan militer di negeri-negeri Islam, untuk mengusir entitas penjajah dari tanah kaum muslimin.
Rasulullah ï·º bersabda:
"Sesungguhnya Al-Imam (Khalifah) itu merupakan perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan berlindung dengannya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menuntun kita pada pemahaman bahwa jihad fii sabilillah akan memiliki kekuatan yang sangat luar biasa dan terorganisasi dengan baik apabila umat Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan politik global, yaitu institusi Khilafah. Tanpa adanya perisai ini, kekuatan umat akan terfragmentasi dan bantuan yang diberikan hanya sebatas bantuan kemanusiaan yang tidak mampu menghentikan mesin perang musuh.

Baca juga: Gaza: Matinya Hukum Internasional

Khatimah

Tragedi demi tragedi di Gaza pasca-gencatan senjata palsu membuktikan bahwa program jangka pendek berupa pengiriman bantuan logistik atau petisi perdamaian tidak akan pernah menyelesaikan akar masalah. Penjajahan militer hanya bisa dihancurkan dengan mobilisasi militer yang sepadan.

Oleh karena itu, umat Islam di seluruh dunia harus menyadari bahwa perjuangan membebaskan Palestina tidak boleh dilepaskan dari perjuangan mengembalikan institusi Khilafah. Hanya Khilafah-lah yang akan bertindak sebagai perisai hakiki yang menjaga setiap jengkal tanah kaum muslimin, memobilisasi tentara untuk menolong yang tertindas, dan mengakhiri keangkuhan entitas Zionis beserta para penyokongnya.

Palestina adalah ujian keimanan bagi umat hari ini. Menyelamatkan Gaza berarti harus memutus ketergantungan pada solusi Barat dan kembali pada jalan yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Dhini Sri Widia Mulyani Kontributor Narasiliterasi.id dan Pegiat Literasi Kabupaten Bandung
Previous
Menjamurnya Kaki Lima, Potret Rapuhnya Ekonomi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram