
Kasih sayang di dalam Islam tidaklah sama dengan kasih sayang versi Valentine's day yang kental dengan kemaksiatan.
Oleh. Sari Ramadani
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-'Cause all of me loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me, I'll give my all to you
You're my end and my beginnin'
Even when I lose, I'm winnin'
Begitulah sepenggal lirik lagu populer yang berjudul All of Me yang dibawakan oleh John Legend. Seperti menggambarkan kondisi para "Aktivis Pacaran" yang makin diperparah dengan adanya perayaan Valentine's day. Setiap tahunnya pada tanggal 14 Februari bagaikan momentum melegalkan pelanggaran hukum berkedok kasih sayang yang tergolong kemaksiatan.
Anggota Satpol PP dan petugas Dinas Sosial Kota Makassar mengamankan belasan remaja dalam razia yang digelar bertepatan dengan hari Valentine. Muda-mudi yang kedapatan di dalam kamar hotel langsung dibawa ke kantor Balai Kota Makassar.
Dalam razia di sejumlah hotel dan penginapan kelas melati, ada belasan pasangan belum menikah yang diamankan. Petugas juga mengamankan seorang remaja perempuan berkebangsaan Jerman yang menginap bersama rekan prianya di Hotel Mangga Dua, Jalan Tanimbar. (news.detik.com, 14-02-2020)
Penjualan cokelat kemasan dan alat kontrasepsi berbagai merek di sejumlah minimarket wilayah Cianjur mengalami peningkatan saat perayaan Hari Kasih Sayang pada 14 Februari kemarin. (m.jpnn.com, 17-02-2020)
Valentine's day: Ritual Melanggar Syariat
Ritual yang sama bahkan makin parah setiap tahunnya. Miris memang!
Hal ini pun makin menguatkan bahwa hari kasih sayang yang mereka suarakan selama ini tak lebih hanya ingin mengekspresikan nafsu berkedok kasih sayang. Mulai dari saling memberikan hadiah berupa coklat, bunga, bahkan yang lebih parah lagi perzinaan yang dilakukan secara masal.
Sangat disayangkan tak ada pencegahan secara sistematis oleh penguasa. Mengingat sistem yang diterapkan hari ini adalah sistem rusak lagi merusak. Seolah-olah membiarkan bahkan memuluskan segala bentuk kemaksiatan termasuk juga perayaan Valentine's day. Oleh karena itu, generasilah yang menjadi korbannya.
Tak heran memang, karena para generasi muslimlah yang sebenarnya menjadi target utama. Tujuannya agar para generasi lalai hingga tak ada lagi yang akan mengambil alih estafet kepemimpinan Islam. Maka, diberilah doktrin-doktrin tentang cinta dan bagaimana cara mengekspresikannya walaupun hal ini sudah jelas menyesatkan. Akibatnya, iman pun tergadai dengan adat kebiasaan yang bukan berasal dari Islam. Bahkan Islam sendiri telah mengharamkan segala bentuk perayaan yang bukan berasal dari Islam.
Sejarah Valentine's Day
Jika dilihat lagi, sebenarnya banyak cerita di balik munculnya Valentine’s day. Salah satu yang paling dikenal adalah kisah yang berasal dari sejarah Romawi pada masa Kaisar Claudius II yang melarang para tentara menikah dengan alasan akan melemahkan mereka ketika di medan perang.
Kebijakan ini ditentang oleh seorang pendeta yang bernama Valentine, ia berusaha secara diam-diam menikahkan pasangan muda. Tindakan ini kemudian diketahui sehingga pada akhirnya pendeta Valentine ditahan serta dihukum. Tubuhnya dipukul hingga dipancung.
Hukuman ini kemudian diabadikan lewat perayaan hari kasih sayang yang dilakukan setiap tanggal 14 Februari.
Kasih Sayang dalam Islam
Jelaslah bahwa peristiwa ini tidak sesuai dengan aturan Islam. Karena naluri seksual adalah fitrah setiap manusia normal yang tidak mungkin dihilangkan.
Islam sendiri tidak menolak adanya naluri tersebut. Bukan sebuah dosa yang memiliki konsekuensi hukuman tertentu jika memiliki ketertarikan atau kecenderungan pada lawan jenis. Namun, Islam juga tidak membebaskan manusia memenuhi fitrahnya tersebut sesuka hati.
Islam adalah agama sempurna untuk mengatur hidup manusia agar terarah sehingga tak melakukan penyimpangan yang dapat menyengsarakan.
Maka, syariat Islam pun datang untuk memberikan solusi termasuk juga dalam masalah naluri.
Di dalam Islam, kehidupan laki-laki dan perempuan adalah terpisah kecuali dengan mahramnya. Kemudian laki-laki dan perempuan hanya bisa diizinkan berinteraksi secara langsung dalam hal pendidikan, kesehatan, perdagangan, serta kepentingan yang syari' saja. Dengan aturan ini, manusia menjadi terjaga kehormatannya dan menjauhkannya dari perbuatan yang dilarang Allah Swt.
“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (TQS. Al-Isra[17]: 32)
Di antara perbuatan yang dapat mendekati zina adalah khalwat, perbuatan yang diharamkan, sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Ingatlah, bahwa tidaklah seorang laki-laki itu berkhalwat dengan seorang wanita kecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)
Islam adalah agama sempurna yang mengajarkan umatnya berkasih sayang. Bahkan dalam beberapa hadis Rasulullah saw. menyebutkan kasih sayang adalah salah satu sebab turunnya rahmat Allah Swt.
Para pengasih dan penyayang dikasihi dan disayang oleh Ar-Rahmaan (Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang-pen), sayangilah yang ada di bumi niscaya kalian akan dirahmati oleh Zat yang ada di langit.” (HR. Abu Dawud no 4941 dan At-Thirmidzi no 1924)
Baca juga: Syakban: Pemindahan Kiblat Menuju Kesatuan Umat
Khatimah
Kasih sayang di dalam Islam tidaklah sama dengan kasih sayang versi Valentine's day yang kental dengan kemaksiatan. Landasannya bukan hanya rasa suka dan cinta, tetapi didasari ketaatan pada perintah Allah Swt. dan tak terbatas hanya pada momen Valentine's day saja serta harus sesuai dengan ketentuan syariat.
Contohnya, antara perempuan dan laki-laki bukan mahram hanya dapat berkasih sayang dalam ikatan pernikahan, orang tua kepada anak-anaknya begitu juga sebaliknya. Kasih sayang di antara orang-orang beriman, dan kasih sayang kepada sesama makhluk Allah Swt.
Untuk itu, masihkah kita mau mengikuti hal yang sudah jelas keharamannya? Tidakkah kita sadar bahwa berkasih sayang yang sesuai dengan syariat adalah hal yang dapat menjauhkan kita dari dosa. Lantas, tak inginkah kita menjadi generasi penerus yang akan mengembalikan kemuliaan Islam? Semua ini hanya bisa terjawab dengan keimanan yang kita miliki.
Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com
















