Gawat! Dracin Menginvasi Kepribadian Kaum Muslim

Gawat dracin menginvasi kepribadian kaum muslim

Mabda Islam mengatasi pengaruh budaya asing termasuk dracin melalui 3 pilar utama, yaitu; ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan peran negara.

Oleh. Kurnia Dewi
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Tayangan drama pendek Cina yang berseliweran di dunia maya menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Selain ceritanya yang dianggap menghibur, alur balas dendam yang membungkam musuh turut mengisi naluri baqa’ bagi orang-orang yang pernah merasakan pahitnya mengalami penindasan. Indonesia menjadi pasar terbesar di dunia bagi penikmat dracin melalui TikTok dengan jumlah 150-184 juta pengguna aktif yang kesehariannya bisa menghabiskan waktu selama 2 jam di platform tersebut.

Analisa Fenomena Dracin Menurut Mabda Islam

Dracin membawa pengaruh besar bagi kepribadian kaum Muslim mengingat negara asalnya, Cina, merupakan negara dengan ideologi yang berseberangan dengan Islam. Berikut hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Mabda Islam dari dracin:

  • Nilai liberalisme dan materialisme dikemas ke dalam cerita yang memuat gaya hidup hedon. Ditambah interaksi lawan jenis yang kebablasan dan konsep kebahagiaan yang digambarkan melalui pemuasan kebutuhan jasmani dan perolehan materi.
  • Standar kecantikan yang mengacu pada fisik dengan kulit putih, tinggi, langsing. Juga cara berdandan tabarruj menyebarkan aroma insecure pada para jiwa penonton.
  • Kesesatan akidah yang menampilkan cerita akan kepercayaan terhadap yang lain selain Allah Swt. dalam mengatur qada-qadar, seperti konsep reinkarnasi, perubahan wujud menjadi dewa-dewi, kemampuan supernatural, dst. yang bertentangan dengan tauhid.
  • Ghazwul Fikr, dracin sebagai alat pencuri waktu yang dapat menjadikan seorang Muslim melalaikan kewajiban. Dracin juga menjadi alat soft power untuk menyebarkan budaya, pemikiran, dan politik Cina untuk menggeser identitas Islam dalam jiwa kaum Muslim. Firman Allah Swt.:

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta… hingga jika mereka masuk ke lubang biawak pun, kalian akan mengikutinya.” (HR. Bukhari No. 7320)

Baca juga: Remaja Lemah Produk Sekularisme

Menguatkan Kepribadian Islam

Mabda Islam mengatasi pengaruh budaya asing termasuk dracin melalui tiga pilar utama, yaitu ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan peran negara. Secara individu, Islam membangun benteng bagi setiap Muslim agar memiliki filter untuk membentengi diri dari pengaruh asing. Islam untuk meletakkan standar kebahagiaan hanya pada rida Allah Swt. Menanamkan kesadaran bagi Muslim bahwa setiap waktu yang dihabiskan kelak akan diminta pertanggungjawaban di akhirat. Islam juga memerintahkan kaum Muslim agar mampu mengendalikan naluri nau’ dan menundukkan pandangan terhadap segala sesuatu yang diharamkan dengan meninggikan naluri tadayyun-nya.

Kontrol sosial, masyarakat Muslim wajib memberi perhatian dan peka terhadap konten yang mampu menggerus akidah umat Islam. Amar makruf nahi munkar bisa dilakukan dengan cara menanamkan kesadaran kolektif di media sosial. Salah satunya membangun opini umum di tengah masyarakat bahwa tren dracin dapat merusak kepribadian Islami. Opini umum ini harus digencarkan baik melalui kritik maupun edukasi agar masyarakat terlepas dari jeratan pemikiran syirik lagi sesat.

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya…” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Peran negara sebagai instansi yang memegang otoritas penuh untuk melindungi dan mengontrol apa yang dikonsumsi rakyat di media sosial dan internet. Oleh karena itu, negara wajib memberikan filter bagi konten atau budaya yang berpotensi merusak pemikiran dan kepribadian umat. Sebagai gantinya, negara harus menciptakan dan mendukung iklim industri media yang menyajikan konten yang menghibur, mendidik, menguatkan keimanan, dan menjaga kemuliaan syariat Islam. Negara wajib memastikan informasi tidak tercemar bahkan didominasi oleh pemikiran asing.

Khatimah

Hukum menonton film pada dasarnya adalah mubah (boleh). Namun, kemubahan tersebut akan berubah menjadi haram jika umat Islam meninggalkan nilai-nilai syariat. Begitu juga jika sampai melalaikan kesadaran bahwa setiap Muslim terikat pada syariat.

Jika umat Islam tidak menanamkan awareness pada budaya asing yang masuk, maka dapat mengancam eksistensi agama bahkan negara yang memiliki identitas Islam. Lebih nahas lagi jika budaya asing mampu menempatkan kita pada kondisi yang menciptakan kemurkaan Allah Swt. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Kurnia Dewi Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
Industri Senjata di Balik Konflik
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram