
Masyarakat desa memang tidak menggunakan dolar tetapi tetap mengalami dampak dari peningkatan nilai tukar dolar tersebut.
Oleh. Ummu Aidzul
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-"Orang desa kan tidak pakai dolar". Ucapan itu dengan ringan diucapkan oleh Bapak Presiden saat rupiah mengalami pelemahan menjadi Rp17.600 terhadap dolar Amerika tanggal 15 Mei lalu. (Kompas 16-05-2026)
Ya memang ucapan tersebut sekilas masuk akal. Namun, sebetulnya lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar ini tetap memengaruhi kehidupan ekonomi masyarakat desa. Hal ini dikarenakan masih bergantungnya masyarakat terhadap barang impor yang pembayaran nya menggunakan dolar. Salah satu barang vital yang dibeli melalui skema impor adalah Bahan Bakar Minyak (BBM). Maka pelemahan rupiah terhadap dolar ini akan berdampak pada naiknya harga bahan pokok dan barang lainnya.
Nilai Rupiah Melemah, Harga Barang Naik
Uang kertas yang saat ini digunakan disebut dengan fiat money. Fiat money ini beredar di masyarakat atas legalitas lembaga keuangan nasional. Namun, kelemahan dari uang kertas salah satunya adalah ketergantungan kepada nilai mata uang dolar. Nilai rupiah memang mudah untuk dipengaruhi dolar Amerika. Hal ini dikarenakan dolar sebagai mata uang cadangan devisa dunia, bergantungnya perekonomian Indonesia dengan perdagangan internasional, serta aliran modal asing.
Depresiasi nilai rupiah ini terjadi akibat beberapa sebab. Penyebab nya berasal dari eksternal dan internal. Faktor eksternal yakni kondisi perpolitikan dunia yang sedang panas sehingga mendorong naiknya harga minyak, tingginya suku bunga Bank AS mengakibatkan investor global memindahkan modal ke aset AS, adanya perilaku membeli dolar untuk mengamankan dana yang dimiliki.
Faktor internal di antaranya jatuh tempo pembayaran utang luar negeri dan dividen investor, pembelian bahan baku dan barang modal secara impor.
Melemahnya nilai rupiah terhadap dolar makin memperburuk perekonomian karena mendorong naiknya harga barang. Semisal naiknya harga kedelai sebagai bahan baku tahu tempe karena dibeli melalui impor dari negara lain.
Sebelum nilai tukar dolar naik saja harga-harga barang sudah naik akibat perang Iran dan Amerika-Israel. Kondisi ini makin menambah beban hidup rakyat. Kesulitan hidup makin mengimpit di tengah sulitnya mencari kerja dan lesunya perekonomian.
Bagi sebagian masyarakat awam yang ingin solusi singkat, bisa jadi mengambil pinjol dan judol sebagai jalan pintas. Bahkan saat ini terdapat 200 ribu anak yang terpapar judol. Untuk transaksi pinjol sendiri, utang rakyat Indonesia menyentuh angka seratus triliunan lebih.
Kebijakan Salah Arah
Namun, herannya pemerintah justru menganggap kondisi perekonomian rakyat baik-baik saja. Bahkan pemerintah merespon kondisi ini dengan komentar yang nampak tidak berempati atas penderitaan rakyat. Masyarakat desa memang tidak menggunakan dolar tetapi tetap mengalami dampak dari peningkatan nilai tukar dolar tersebut.
Karena ketidakpahaman kondisi rakyat, berakibat kesalahan penyelesaian masalahnya. Saat ini solusi yang diberikan pemerintah adalah pemberian berbagai bantuan sosial (Bansos), beasiswa pendidikan. Namun, bantuan ini tidak merata dirasakan oleh semua orang yang membutuhkan karena ada beberapa syarat dan ketentuan yang berlaku. Solusi ini tidak menyentuh akar permasalahan.
Akhirnya, sebagian besar masyarakat menanggung sendiri beban hidupnya. Bahkan, kebijakan yang diambil oleh pemerintah justru makin memperburuk keadaan. Karena dalam sistem kapitalis sumber pemasukan kas negara adalah melalui pajak dan utang luar negeri. Maka utang luar negeri terus menumpuk dan Indonesia makin bergantung kepada dolar.
Baca juga: Rupiah Anjlok, Negara Bangkrut, Rakyat Terpuruk
Sistem Ekonomi Islam
Islam sebagai suatu mabda memiliki aturan hidup yang komprehensif salah satunya aturan ekonomi. Islam memiliki mata uang dinar dirham yang anti inflasi. Fungsi mata uang dalam Islam adalah sebagai alat tukar tidak menjadi alat spekulasi.
Nilai dinar dirham lebih stabil dibandingkan nilai uang kertas. Uang kertas memiliki nilai yang berbeda di satu negara dibandingkan nilai uang kertas di negara lain. Akibatnya orang yang memiliki kelebihan dana akan menukar uang ke mata uang yang paling besar nilainya dalam hal ini dolar. Selain itu mata uang emas memiliki nilai nominal dan nilai intrinsik yang setara.
Selain pemberlakuan mata uang berbasiskan emas dan perak, negara juga akan melakukan beberapa strategi untuk menjaga stabilitas harga. Di antaranya larangan riba, pengaturan rantai distribusi agar lebih mudah diterima masyarakat, pengaturan kepemilikan, dan yang lainnya disandarkan atas syariat.
Setiap kegiatan ekonomi Islam menghasilkan pahala serta keberkahan dalam pelaksanaannya. Sehingga individu akan menjauhi perbuatan curang, spekulasi maupun penumpukan harta. Selain itu negara akan melakukan upaya yang besar untuk menyejahterakan rakyat nya. Hal ini karena pemimpin dalam Islam adalah raa'in yang bertanggung jawab atas kepengurusan rakyatnya sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
"Imam adalah raa'iin dan dia bertanggung jawab atas urusan rakyatnya."
(HR Bukhari)
Negara akan mengelola Sumber Daya Alam sesuai dengan amanah syariat sehingga tercipta lapangan kerja untuk para suami dan laki-laki yang sudah baligh. Negara juga akan mengelola zakat, infak, dan sedekah untuk disalurkan kepada warga yang membutuhkan sesuai aturan syarak.
Dalam perdagangan dengan negara lain, kerja sama dilakukan untuk memperoleh kemaslahatan bersama untuk pemenuhan kebutuhan barang maupun untuk memperoleh keuntungan. Bukan untuk menguasai perekonomian negara lain. Maka hanya negara yang menerapkan Islam kafah akan mewujudkan perekonomian global yang adil dan mewujudkan rahmatan lil 'aalamiin. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















