Saling Memaafkan dalam Tradisi Idulfitri

Saling memaafkan dalam tradisi lebaran

Maka tak heran jika ulama dan Wali Songo dulu menciptakan tradisi maaf-memaafkan untuk menjaga kerukunan masyarakat serta membangun persatuan di antara mereka.

Oleh. Tari Ummu Hamzah
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Perayaan Idulfitri di Indonesia memiliki akar sejarah yang dalam. Berawal dari masa penyebaran Islam di Nusantara, para ulama menyebarkan agama Islam di tanah Jawa khususnya Wali Songo, memainkan peran penting dalam membentuk tradisi Lebaran yang kita kenal saat ini.

Sunan Kalijaga dikenal sebagai tokoh yang memperkenalkan beberapa tradisi Lebaran. Beliau menggabungkan nilai Islam dengan kearifan lokal Jawa, menciptakan perayaan yang unik dan khas Indonesia. (Liputan6.com, 21-2-2025)

Sedangkan di wilayah-wilayah muslim kala itu terutama di Timur Tengah dan wilayah asia lainnya, setelah pelaksanaan salat Idulfitri tidak ada tradisi berjabatan tangan secara bersama-sama untuk saling memaafkan. Berjabatan tangan secara sporadis yang dilakukan hanyalah sebagai simbol keakraban saja. Sedangkan aktivitas saling memaafkan bisa dilakukan di hari-hari biasa. (detikedu.com, 15-5-2021)

Sedangkan kondisi di Indonesia yang memopulerkan tradisi maaf-maafan saat Lebaran adalah tokoh besar agama. Kemudian pelaksanaannya dicontohkan oleh pihak keraton alias penguasa kala itu, yaitu di era Mangkunegara I (1725) dari Keraton Surakarta, melakukan pertemuan besar antara raja dengan para punggawa dan prajurit setelah Idulfitri. (detikedu.com, 15-5-2021)

Inti dari Saling Memaafkan

Memaafkan terkadang menjadi hal yang sulit dilakukan. Karena sekelas Rasulullah saja, juga pernah merasa berat untuk menerima kesalahan dari kaum muslimin. Ini terjadi pada perang uhud. Saat 40 orang turun dari bukit karena tergiur dengan harta peperangan yang berserakan. Padahal Rasulullah menyuruh mereka untuk tetap di posisinya.

Akibatnya 72 orang sahabat terbaik Rasulullah terbunuh saat perang uhud. Termasuk paman beliau, Hamzah. Serta Mus'ab bin Umair. Saking sedihnya Rasulullah hanya terdiam. Tidak mau berbicara dengan kaum muslimin. Lalu Allah menurunkan wahyu-Nya yang tertuang dalam surah Ali-Imran ayat 159.

"…. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal."

Ayat ini mengingatkan kepada Rasulullah bahwa sepedih apapun perasaan beliau tetap harus bisa memaafkan, meminta ampun atas kesalahan mereka, serta harus bermusyawarah untuk memecahkan masalah umat. Bayangkan, jika kita di posisi itu. Seberat apa perasaan yang harus kita tanggung. Namun, Al-Qur'an mengajarkan kita untuk meredam ego. Agar kelak tidak muncul kembali perselisihan di antara manusia.

Dari ayat di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa, memaafkan akan menjaga kerukunan umat, serta menjaga persatuan. Maka tak heran jika ulama dan Wali Songo dulu menciptakan tradisi ini untuk menjaga kerukunan masyarakat serta membangun persatuan di antara mereka.

Baca juga: ‎Rajab dan Isra Mikraj: Momentum Membentuk Kesadaran Umat‎

Peran Penguasa dalam Menjalankan Tradisi

Masyarakat itu tidak berdiri sendiri. Ada peran penguasa dan sistem untuk menjaga dan melestarikan tradisi. Pada masa kolonial, kerajaan Islam telah tumbuh di bumi Nusantara. Sehingga beberapa tradisi mereka mengikuti perintah Islam juga.

Ini menunjukkan bahwa Islam menjadikan umatnya untuk menjalankan kebiasaan serta tradisi bersandar pada Al-Qur'an. Saling memaafkan itu perintah Allah, maka ulama menjadikan momen 1 syawal sebagai momen persatuan umat. Karena momen satu syawal itu waktu di mana banyak kaum muslimin berkumpul melaksanakan salat Id.

Satu perintah Allah saja memiliki pengaruh yang luar biasa, apalagi jika seluruh aturan Allah diterapkan bisa jadi tradisi yang melekat di tengah masyarakat adalah tradisi menjaga ketaatan demi menggapai ketakwaan. Karena Islam hadir membimbing umat untuk melakukan aktivitas yang memiliki dasar keimanan dengan tujuan menggapai rida Allah. Bukan hanya sekadar euforia saja.

Khatimah

Sayangnya saat ini kita masih berada dalam sistem kufur kapitalisme. Tradisi di dalamnya melenceng jauh dari syariat Allah. Akibatnya budaya bebas, individual, dan hedon tumbuh subur di negeri-negeri muslim. Yang seharusnya mereka menjalankan aturan Islam malah dipaksa menormalisasi budaya barat.

Sudah saatnya kaum muslimin kembali kepada akarnya. Yaitu, akidah Islam serta syariat yang terpancar darinya. Melanjutkan kembali kehidupan Islam dan menghidupkan nilai-nilai Islam di setiap sendi kehidupan.

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Tari Ummu Hamzah
Tari Ummu Hamzah Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
‎Menelisik SKB Kesehatan Jiwa Anak
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram