
Warga Gaza merayakan Idul Fitri di tengah reruntuhan dan tenda darurat. Nestapa mereka terus berlanjut sementara dunia makin abai terhadap Palestina.
Oleh. Hanny N.
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)
NarasiLiterasi.Id-Satu Syawal yang berarti Idulfitri seharusnya menjadi hari kemenangan. Hari ketika umat Islam merayakan berakhirnya puasa sebulan penuh dengan penuh sukacita, berkumpul bersama keluarga, saling memaafkan, dan menyambung tali silaturahmi. Namun, di Gaza Idulfitri kembali dirayakan dalam suasana duka.
Kota yang dahulu hidup kini menjadi hamparan puing dan debu. Rumah-rumah rata dengan tanah, masjid dihancurkan, jalan-jalan berubah menjadi tenda-tenda darurat, dan setiap keluarga kehilangan orang yang mereka cintai. (minanews.net, 20-03-2026)
Sementara umat Islam di berbagai belahan dunia mengenakan pakaian terbaik mereka, warga Gaza menjalani hari raya dengan pakaian yang penuh debu, tubuh lelah karena kurang makan, dan hati yang remuk oleh kehilangan demi kehilangan. Tidak ada takbir yang bergema meriah; yang terdengar justru suara drone, pesawat tempur, dan tangisan anak-anak yang mencari orang tua mereka di antara reruntuhan.
Syawal di Gaza, Idulfitri di tengah kuburan kota. Namun, meski di bawah reruntuhan, mereka tetap bertakbir, sebuah kesaksian bahwa iman tetap hidup saat dunia hampa dari keadilan.
Duka yang Tak Berujung
Setiap musim Idulfitri, berita tentang Gaza selalu sama, kesedihan yang tidak pernah berhenti. Tahun ini, warga Gaza merayakan hari raya di tengah puing gedung-gedung hancur, tenda-tenda darurat yang sesak, minimnya makanan dan air, hilangnya anggota keluarga, dan trauma serangan yang tiada henti.
Untuk sebagian orang, Idulfitri berarti kembali berkumpul. Tetapi bagi rakyat Gaza, Idulfitri berarti menghitung kembali berapa banyak keluarga yang sudah tidak utuh lagi. Dan dunia, terutama dunia Islam, seakan semakin terbiasa dengan berita derita warga Palestina.
Mengapa Penderitaan Gaza Makin Terlupakan?
Belakangan, perhatian Amerika Serikat dan Israel bergeser pada konflik dan ketegangan dengan Iran. Dengan narasi “pertahanan regional” dan “stabilitas Timur Tengah”, kedua negara itu kembali memainkan panggung politik internasional. Gaza, yang sudah lama menjadi korban kolonialisme Zionis, semakin tersisih dari fokus global. Kesengsaraan mereka tidak lagi menjadi sorotan utama, justru tertutup oleh kepentingan geopolitik baru. Padahal luka Gaza tidak pernah berhenti berdarah.
Yang lebih memilukan adalah sikap sebagian negara Arab yang justru menjalin aliansi militer dengan Barat, membuka kerja sama pertahanan dengan AS, bahkan ikut serta dalam operasi yang menargetkan Iran, sembari tetap menjaga hubungan diplomatik dengan Israel.
Sementara itu Gaza dibiarkan sendirian. Alih-alih menjadi tameng bagi rakyat Palestina, sebagian negeri Arab justru ikut memperkuat poros kekuatan yang selama ini melindungi penjajahan Israel. Ini adalah ironi paling menyakitkan bagi umat Islam hari ini.
Gaza Harusnya Menjadi Luka Seluruh Umat Islam
Kesedihan Gaza bukan hanya kesedihan mereka. Dalam Islam, umat ini adalah satu tubuh. Rasulullah ﷺ bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan menyayangi adalah seperti satu tubuh…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Jika satu bagian terluka, seluruh tubuh merasakan sakit. Maka ketika saudara kita di Gaza menangis pada hari raya, seharusnya dunia Islam ikut menangis. Ketika anak-anak Gaza kehilangan keluarga, kita seharusnya merasa kehilangan. Ketika mereka salat Id di atas reruntuhan masjid, kita seharusnya merasa masjid kita pun runtuh.
Namun, hari ini tubuh umat ini seperti mati rasa. Luka Gaza tidak lagi membuat bangsa-bangsa Muslim berguncang.
Dunia sering berbicara tentang “proses perdamaian”, tetapi kenyataannya tidak ada prioritas untuk kemerdekaan Palestina, tidak ada komitmen menghentikan penjajahan, tidak ada upaya menghentikan agresi terhadap warga sipil. Yang ada hanya hegemoni, kontrol wilayah, dan perluasan kekuasaan.
Bagi Israel, Gaza adalah proyek kolonial.
Bagi AS, Palestina hanyalah “isu samping” dalam permainan politik global.
Baca juga: Gaza: Matinya Hukum Internasional
Umat Harus Bersatu
Islam memerintahkan kasih sayang kepada muslim dan keras terhadap penjajah. Allah Ta’ala berfirman, “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (penjajah), namun berkasih sayang kepada sesama mereka.” (QS. Al-Fath: 29)
Ayat ini menegaskan identitas umat Islam lembut, penuh rahmat, dan melindungi saudara muslim, tetapi tegas, keras, dan tidak tunduk kepada penjajah.
Hari ini, keadaan terbalik. Umat Islam justru lembut kepada penjajah dan keras kepada saudaranya sendiri. Persaudaraan iman bukan slogan spiritual. Ia adalah prinsip politik dan syariat yang mengikat seluruh dunia Islam.
Umat Islam wajib membebaskan penderitaan saudaranya. Tidak boleh ada batas negara, bendera, dan kepentingan nasional sempit yang menghalangi.
Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kalian dan hendaklah mereka mendapati kekerasan dari kalian.” (QS. At-Taubah: 123)
Ayat ini bukan hanya seruan perang, tetapi seruan perlindungan umat. Jika seruan ini ditegakkan, Palestina tidak akan dibiarkan sendirian.
Sepanjang sejarah Islam, Palestina hanya bisa dibebaskan ketika negara Islam bersatu di bawah satu kepemimpinan Umar bin Khaththab membebaskan al-Quds, Salahuddin al-Ayyubi mengembalikan Yerusalem, Utsmani menjaga Palestina berabad-abad. Tidak ada satu pun pembebasan Palestina yang terjadi tanpa kekuatan negara Islam yang bersatu.
Karena itu, jihad yang benar untuk membebaskan Palestina hanya dapat dilakukan oleh Khilafah ‘ala minhāj an-nubuwwah, negara yang menyatukan umat Islam di bawah satu bendera, satu pemimpin, dan satu kekuatan militer.
Selama negeri-negeri Muslim terpecah, Gaza akan terus disayat oleh pedang musuh.
Idulfitri Gaza adalah Cermin Kelemahan Umat Hari Ini
Idulfitri di Gaza adalah hari raya yang dipenuhi air mata. Bukan karena mereka lemah, tetapi karena umat Islam di seluruh dunia belum bangkit menjadi penolong mereka.
Dunia boleh berpaling dari Gaza. Negara-negara Arab boleh lupa dan sibuk dengan aliansi politik. AS dan Israel boleh mengalihkan fokus ke Iran. Namun, penderitaan rakyatnya tetap nyata dan menjadi ujian bagi kita. Sampai kapan umat Islam membiarkan Idulfitri dirayakan di atas reruntuhan?
Sampai kapan anak-anak Gaza salat Id di antara puing dan darah? Dan sampai kapan dunia Islam diam, sementara saudara kita dibunuhi?
Gaza tidak butuh doa saja. Namun, Gaza butuh persatuan dan pasti butuh Khilafah. Jika umat ini kembali bersatu, maka bukan hanya Gaza yang merdeka, dunia pun akan menyaksikan kebangkitan umat yang pernah memimpin dengan keadilan.
Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















