‎Ejekan Berujung Kematian, Pendidikan Hilang Arah?

Ejekan berujung Kematian pendidikan hilang arah

Selama sistem pendidikan berorientasi kapitalistik maka peristiwa serupa akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda.

Oleh. Jannatu Naflah
(Kontributor NarasiLiterasi.Id dan Praktisi Pendidikan)

‎NarasiLiterasi.Id-Kasus perkelahian yang menewaskan seorang siswa SMP di Sragen baru-baru ini menambah duka di dunia pendidikan kita. Peristiwa itu bermula dari hal yang tampak sepele, yakni saling ejek antar teman. Namun, konflik kecil tersebut justru berkembang menjadi perkelahian hingga akhirnya merenggut nyawa salah satu siswa. Mirisnya, peristiwa ini berlangsung di lingkungan sekolah yang seharusnya menjadi tempat dan ruang aman bagi tumbuh kembang anak.

Ya, akibat saling ejek yang berbuntut perkelahian, WAP (14) harus meregang nyawa di tangan DTP (14), temannya sendiri. Peristiwa tragis ini terjadi di toilet sekolah saat jam pelajaran kosong. Dalam perkelahian tersebut, pelaku melakukan tindakan kekerasan terhadap korban hingga korban tidak sadarkan diri. Korban sempat mendapatkan penanganan di unit kesehatan sekolah sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit. Namun, kondisi korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia. (detik.com, 9 April 2026)

‎Peristiwa ini jelas tidak dapat dipandang sebagai insiden tunggal atau sekadar kenakalan remaja yang “kebablasan”. Namun, mencerminkan kondisi yang lebih luas, yakni rapuhnya kepribadian generasi muda dalam menghadapi konflik. Mengingat, bukan kali ini saja kasus serupa terjadi di tengah generasi muda kita. Fakta ini sekaligus menunjukkan lemahnya sistem yang seharusnya membentuk kepribadian generasi muda bangsa.

Pendidikan ala Kapitalisme

Jika ditelusuri lebih dalam, persoalan ini tidak lepas dari cara pandang sistem yang menaungi pendidikan hari ini. Dalam paradigma kapitalisme, pendidikan cenderung diposisikan sebagai alat untuk menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif secara ekonomi. Fokus utamanya adalah capaian akademik, keterampilan kerja, dan produktivitas.

Aspek moral dan pembentukan kepribadian sering kali menjadi pelengkap, bukan prioritas utama. Akibatnya, sekolah lebih sibuk mengejar nilai, peringkat, dan standar kelulusan, sedangkan pembinaan karakter berjalan seadanya. Pendidikan karakter memang sering digaungkan, tetapi dalam praktiknya tidak terintegrasi secara mendalam dalam seluruh proses pendidikan. Nilai-nilai seperti kesabaran, pengendalian diri, dan penghormatan terhadap sesama tidak benar-benar ditanamkan sebagai fondasi hidup, melainkan sekadar pengetahuan yang dihafal.

Dalam sistem seperti ini, tidak mengherankan jika generasi muda tumbuh dengan kemampuan akademik yang cukup, tetapi lemah dalam mengelola emosi dan konflik. Ketika dihadapkan pada ejekan atau tekanan sosial, sebagian dari mereka memilih jalan instan, yakni kekerasan. Bukan karena mereka tidak tahu itu salah, melainkan karena tidak memiliki kepribadian yang kokoh untuk menahan diri.

Islam Cetak Generasi Terbaik

Berbeda dengan kapitalisme, Islam memandang pendidikan sebagai proses pembentukan kepribadian islami pada generasi. Tujuan utamanya bukan sekadar mencetak individu cerdas, tetapi membentuk manusia yang beriman, berakhlak, dan mampu mengendalikan diri sesuai tuntunan syariat. Individu yang berpikir dan bersikap dengan tolol ukur syariat. Individu yang benak dan pikirannya senantiasa terpaut pada Sang Pencipta. Sehingga puncak kebahagiaannya adalah rida Allah Swt. semata.

Dalam Islam, adab bukan tambahan, melainkan inti. Seorang muslim dididik untuk menjaga lisan, menghormati sesama, dan menyelesaikan konflik dengan cara yang baik. Nilai-nilai ini tidak hanya diajarkan, tetapi ditanamkan melalui pembiasaan dan keteladanan. Dengan demikian, ketika menghadapi ejekan atau provokasi, seorang individu tidak mudah terpancing, karena ia memiliki standar perilaku yang jelas dan kuat.

Tragedi di Sragen menunjukkan absennya fondasi ini. Ejekan yang seharusnya dapat diabaikan atau diselesaikan secara damai justru berujung pada kekerasan fatal. Ini bukan sekadar kegagalan individu, tetapi kegagalan sistem dalam membentuk kepribadian generasi bangsa.

Sejatinya, solusi yang dibutuhkan tidak hanya sekadar teknis semata, seperti memperketat pengawasan atau memberikan sanksi lebih berat. Langkah-langkah tersebut penting, tetapi tidak menyentuh akar masalah. Yang dibutuhkan adalah perubahan mendasar dalam orientasi pendidikan.

Baca juga: Sistem Sekuler Gagal Menjaga Generasi

Saatnya Kembali pada Islam

Islam menawarkan solusi komprehensif melalui pembentukan kepribadian islami pada generasi muda.

Pertama, menjadikan akidah sebagai landasan berpikir dan bersikap, sehingga setiap tindakan didasarkan pada kesadaran akan tanggung jawab di hadapan Allah. Kedua, menanamkan adab sebagai kebiasaan hidup, bukan sekadar teori. Ketiga, menghadirkan lingkungan pendidikan yang mendukung, baik di sekolah, keluarga, maupun masyarakat, yang secara konsisten menampilkan nilai-nilai kebaikan.

Di sisi lain, peran guru dalam Islam tidak hanya sebagai penyampai ilmu, tetapi sebagai pendidik yang membimbing dan menjadi teladan. Begitu pula orang tua, yang memiliki tanggung jawab utama dalam membentuk karakter anak sejak dini. Masyarakat pun memiliki peran penting dalam mengontrol individu dengan aktivitas amar makruf nahi mungkar.

Ketiga elemen tersebut niscaya dalam berjalan selaras saat peran besar negara berjalan sebagai mestinya, yakni sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (perisai) bagi rakyat. Terwujudnya peran negara sebagai raa'in (pengurus) dan junnah (perisai) ini mustahil terwujud dalam sistem kapitalisme sekuler seperti saat ini. Peran ini hanya dapat terwujud saat sistem Islam diterapkan secara komprehensif dalam bingkai negara. Alhasil, penerapan sistem Islam merupakan kebutuhan mendesak bagi generasi muda saat ini.

Sungguh, tragedi di Sragen seharusnya menjadi momentum refleksi. Selama sistem pendidikan berorientasi kapitalistik maka peristiwa serupa akan terus berulang dalam bentuk yang berbeda. Sudah saatnya kita meninjau kembali arah pendidikan kita, bukan hanya untuk mencerdaskan, tetapi untuk membentuk generasi berkepribadian mulia. Generasi terbaik ini jelas hanya akan lahir dalam naungan sistem yang paripurna, yakni Islam. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Previous
Takwa: Bekal Akhirat Lebih Utama
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram