“New Gaza” Jadi Bisnis Amerika?

New Gaza jadi bisnis Amerika

Jangan sampai pembangunan New Gaza yang seharusnya mengembalikan kehidupan rakyat Palestina justru menciptakan ketergantungan politik dan ekonomi baru.

oleh. Dhini
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)

NarasiLiterasi.Id-Ketika perhatian dunia masih tertuju pada kehancuran Gaza, ada cerita lain yang berjalan perlahan di Tepi Barat. Wilayah yang selama ini menjadi bagian penting dari Palestina itu terus menghadapi perluasan permukiman Israel, serangan pemukim, penguasaan tanah, dan berbagai kebijakan yang semakin mempersempit ruang hidup masyarakat Palestina.

Gaza memang sering menjadi pusat perhatian karena skala kehancurannya begitu besar. Namun, ketika dunia mulai membicarakan gencatan senjata, rekonstruksi, dan masa depan Gaza, bukan berarti persoalan Palestina ikut selesai. Justru di Tepi Barat, persoalan lain terus berkembang.

Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan Palestina sebenarnya tidak sesederhana perang antara dua pihak. Ada persoalan wilayah, politik, ekonomi, kepentingan geopolitik, dan yang tidak kalah penting adalah persoalan keadilan.

Tepi Barat yang Terus Terdesak

Laporan ANTARA pada 31 Juli 2026 menyebutkan bahwa pejabat Palestina menilai Israel mulai memperluas pola yang terjadi di Gaza ke Tepi Barat. Menurut pejabat Palestina Hassan Brejieh, tekanan tersebut terlihat melalui operasi militer, serangan pemukim, perluasan permukiman, hingga dugaan upaya mendorong perpindahan penduduk Palestina.

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Anadolu Agency pada 5 Agustus 2026 melaporkan bahwa PBB menyatakan keprihatinan terhadap percepatan legalisasi pos-pos permukiman dan pembangunan permukiman baru di Tepi Barat yang diduduki. PBB juga menilai aktivitas permukiman menjadi salah satu hambatan utama bagi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

Bahkan, Metro TV pada 6 Agustus 2026 melaporkan rencana pembangunan sekitar 2.300 unit permukiman baru untuk memperluas permukiman Gilo di Yerusalem Timur. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa sedikitnya 28 dunam tanah dalam rencana pembangunan itu berasal dari tanah yang disita dari pemilik Palestina dan kemudian diklasifikasikan sebagai tanah negara.

Di titik ini, istilah “aneksasi” menjadi penting untuk dibicarakan. Sebab, penguasaan wilayah tidak selalu dilakukan melalui pengumuman resmi bahwa suatu daerah telah dicaplok. Ia dapat berlangsung perlahan melalui perluasan permukiman, penguasaan tanah, perubahan status wilayah, serta kebijakan yang pada akhirnya mengubah realitas kehidupan masyarakat di lapangan.

Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, berapa banyak ruang yang tersisa bagi Palestina untuk menentukan masa depannya sendiri?

Ketika Rekonstruksi Gaza Memasuki Babak Baru

Di tengah persoalan Tepi Barat tersebut, Gaza kini memasuki pembicaraan mengenai rekonstruksi dan tata kelola baru. Amerika Serikat memiliki posisi penting melalui Board of Peace, sebuah badan yang dalam rencana Gaza membawa agenda rekonstruksi, tata kelola, keamanan, demiliterisasi, pembangunan ekonomi, dan mobilisasi modal.

Hal tersebut juga tercantum dalam Gaza Roadmap yang dipublikasikan Board of Peace. Dokumen tersebut menjelaskan tahapan rekonstruksi Gaza sekaligus pembentukan tata kelola, pengaturan keamanan, pembangunan ekonomi, dan mobilisasi sumber daya untuk pembangunan kembali Gaza.

Gedung Putih sebelumnya juga menyatakan bahwa Board of Peace dibentuk untuk mengawasi pelaksanaan rencana Gaza, termasuk mobilisasi sumber daya, reformasi pemerintahan, demiliterisasi, dan rekonstruksi.

Tentu, membangun kembali Gaza merupakan kebutuhan yang sangat nyata. Setelah rumah, sekolah, rumah sakit, jalan, dan berbagai fasilitas publik mengalami kehancuran, masyarakat Palestina membutuhkan kehidupan yang normal kembali.

Siapa yang penentu arah pembangunan Gaza?

Rekonstruksi bukan hanya persoalan membangun gedung. Rekonstruksi juga menyangkut siapa yang mengatur, siapa yang menguasai sumber daya, siapa yang mengambil keputusan, dan siapa yang nantinya memperoleh manfaat ekonomi dari pembangunan tersebut.

Di sinilah istilah “New Gaza”perlu dilihat secara kritis. Bukan berarti pembangunan kembali Gaza adalah sesuatu yang buruk. Justru rakyat Gaza sangat membutuhkannya. Namun, jangan sampai pembangunan yang seharusnya mengembalikan kehidupan rakyat Palestina justru menciptakan ketergantungan politik dan ekonomi baru.

Gaza membutuhkan pembangunan. Namun, rakyat Gaza juga membutuhkan kedaulatan, keamanan, martabat, dan hak untuk menentukan masa depannya sendiri.

Palestina Bukan Sekadar Persoalan Kemanusiaan

Bagi umat Islam, persoalan Palestina seharusnya tidak hanya dilihat sebagai berita internasional yang muncul setiap kali terjadi serangan.

Al-Qur’an memberikan perhatian terhadap orang-orang yang tertindas. Allah Swt. berfirman dalam QS An-Nisa ayat 75 mengenai orang-orang yang berada dalam kondisi lemah dan tertindas. Ayat ini mengingatkan bahwa membela orang yang dizalimi merupakan bagian dari tanggung jawab moral seorang Muslim.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Ma’idah ayat 8 agar kebencian kepada suatu kaum tidak membuat seseorang berlaku tidak adil. Prinsip ini penting. Membela Palestina bukan berarti membenarkan kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah. Justru karena Islam menjunjung keadilan, maka perjuangan harus tetap membedakan antara pihak yang terlibat dalam konflik dan masyarakat sipil yang tidak bersalah.

Dengan demikian, membela Palestina bukan berarti membenci suatu bangsa atau agama. Yang harus ditolak adalah kezaliman dan ketidakadilan, bukan identitas seseorang.

Umat yang Terpecah Akan Mudah Dilemahkan

Salah satu persoalan yang perlu kita renungkan adalah lemahnya persatuan umat Islam dalam menghadapi persoalan global.

Allah Swt. berfirman dalam QS Ali 'Imran ayat 103 agar umat berpegang teguh kepada tali Allah dan tidak bercerai-berai. Ayat ini relevan ketika melihat kondisi umat Islam hari ini. Banyak negara Muslim memiliki kekayaan alam, kekuatan ekonomi, jumlah penduduk yang besar, dan posisi geopolitik yang strategis. Namun, kekuatan tersebut sering berjalan sendiri-sendiri.

Padahal Rasulullah ﷺ menggambarkan hubungan antarsesama Muslim seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, seorang mukmin dengan mukmin lainnya digambarkan seperti bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan.

Artinya, umat tidak seharusnya hanya bersatu ketika tragedi terjadi. Persatuan harus dibangun jauh sebelum krisis terjadi.

Islam Tidak Hanya Mengatur Ibadah Individu

Islam bukan hanya mengajarkan bagaimana seseorang beribadah secara pribadi. Namun, Islam juga memiliki pandangan mengenai kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, hukum, politik, dan hubungan antarbangsa.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 208 agar orang-orang beriman masuk ke dalam Islam secara keseluruhan. Karena itu, jika Islam dipahami secara menyeluruh, nilai keadilan, amanah, persatuan, perlindungan terhadap yang lemah, dan tanggung jawab terhadap masyarakat tidak berhenti pada kehidupan pribadi, tetapi juga hadir dalam kehidupan bersama. Termasuk dalam persoalan Palestina.

Baca juga: Aneksasi Tepi Barat dan Bisnis New Gaza

Solusi Hakiki: Kembali kepada Islam

Pada akhirnya, persoalan Palestina tidak cukup diselesaikan hanya dengan bantuan kemanusiaan, diplomasi, atau pembangunan kembali Gaza. Semua itu penting, tetapi belum menyentuh persoalan yang lebih mendasar, yaitu lemahnya kekuatan dan persatuan umat dalam menghadapi ketidakadilan.

Islam mengajarkan umat untuk bersatu dan saling menguatkan. Allah Swt. berfirman dalam QS Ali 'Imran ayat 103 agar umat tidak bercerai-berai. Rasulullah ﷺ juga menggambarkan kaum Muslimin seperti satu bangunan yang saling menguatkan.

Karena itu, solusi Palestina tidak cukup berhenti pada rasa prihatin. Umat perlu membangun kembali kekuatan bersama dengan menjadikan Islam sebagai landasan.

Allah Swt. berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 208 agar orang-orang beriman masuk ke dalam Islam secara keseluruhan.

Maka, jika ingin menghadirkan perubahan yang benar-benar mendasar, jalan keluarnya adalah kembali kepada Islam secara menyeluruh. Islam tidak hanya menjadi pedoman dalam ibadah pribadi, tetapi juga menjadi landasan dalam kehidupan masyarakat, ekonomi, politik, pendidikan, dan hubungan antarbangsa.

Dengan menerapkan Islam secara menyeluruh, umat diarahkan menjadi umat yang bersatu, kuat, mandiri, dan mampu memperjuangkan keadilan. Palestina bukan hanya membutuhkan pembangunan kembali gedung-gedung yang hancur, tetapi juga membutuhkan kekuatan umat yang mampu menjaga hak, martabat, dan masa depannya. Sebab, membangun kembali Gaza penting, tetapi membangun kembali kekuatan umat jauh lebih mendasar. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Dhini Sri Widia Mulyani Kontributor Narasiliterasi.id dan Pegiat Literasi Kabupaten Bandung
Previous
Darah dan Air Mata di Tepi Barat
Next
Polemik Desil 2026: Miskin Jadi Relatif
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram