Nilai Mata Uang Melemah, Menambah Beban Rakyat

Nilai mata uang melemah menambah beban rakyat

Islam memandang uang berfungsi sebagai alat tukar. Untuk itu, Islam memberlakukan mata uang dinar dan dirham. Selain terbukti stabil, hal ini juga sebagai wujud implementasi syariat.

Oleh. Setyorini
(Kontributor Narasiliterasi.id & Komunitas Ibu Peduli Negeri)

NarasiLiterasi.Id-Dilansir dari Tempo.com, 15-06-2026. Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS masih di level 17.500 meskipun kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia dan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax telah dilakukan oleh pemerintah.

Fakta ini tidak terlepas dari struktur ekonomi Indonesia. Sekitar 70%, Indonesia masih sangat tergantung pada bahan baku impor di berbagai sektor industri. Kenaikan bahan baku impor ini tidak dapat dihindari karena transaksi sebagian besar menggunakan dolar AS, sehingga pelemahan rupiah ini otomatis meningkatkan biaya produksi.

Pelemahan nilai tukar rupiah ini menambah beban rakyat. Lonjakan harga kebutuhan pokok dan menurunnya daya beli masyarakat adalah imbas yang secara langsung dapat dirasakan.

Untuk menutupi kebutuhan finansial, masyarakat terdorong untuk melakukan pinjaman online. Menurut data OJK menunjukkan bahwa outstanding pembiayaan industri mencapai Rp98,54 triliun per Januari 2026, meningkat sekitar 25,58% secara tahunan.

Meskipun ekonomi Indonesia sedang carut marut dan pelemahan nilai rupiah sedang terjadi, tapi sang presiden merespons dengan santai dan tenang seakan Indonesia sedang baik-baik saja. Seperti ungkapannya saat meresmikan museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Nganjuk.

Sikap kurang empati, terkesan menyepelekan atas keadaan yang akan dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa selama ini pemerintah tidak pernah melihat permasalahan itu secara utuh. Padahal kehidupan rakyat semakin sulit akibat kurang maksimal dalam penanganan setiap masalah yang ada.

Faktor Melemahnya Mata Uang Rupiah

Melemahnya rupiah terhadap dolar tidak bisa dilepaskan dari aspek eksternal. Yakni terkait konstelasi politik internasional. Meningkatnya tensi perang AS-Iran mengakibatkan stabilitas ekonomi global terganggu secara signifikan. Fenomena geopolitik memicu ketidakpastian dan pasar internasional terganggu keseimbangan.

Timur Tengah yang merupakan pusat produksi sekaligus distribusi terbesar di dunia menjadi sangat rentan. Apalagi Iran mempunyai posisi strategis di jalur perdagangan minyak global yaitu keberadaan Selat Hormuz. Maka, ketika konflik meningkat, pasar merespons dengan kekhawatiran akan terganggunya pasokan energi. Dan berdampak pada naiknya harga minyak dunia kemudian diikuti dengan meningkatnya biaya produksi, serta memperburuk neraca perdagangan bagi negara pengimpor energi seperti Indonesia.

Ketidakpastian ekonomi dan politik global ini pun berimbas pada perilaku para investor internasional. Untuk menghindari risiko yang lebih tinggi mereka cenderung mengalihkan asetnya dari negara-negara berkembang kepada aset yang dianggap lebih aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS. Ini juga menjadi alasan melemahnya rupiah.

Merosotnya nilai rupiah sungguh telah banyak memunculkan permasalahan dan menjadi problem ekonomi yang harus segera diatasi. Problem ekonomi ini tidak bisa dilepaskan dari diterapkan sistem ekonomi kapitalisme di dunia ini. Untuk saat ini problem ekonomi yang dihasilkan dari sistem rusak ini adalah perdagangan eksternal, guncangan harga, dan ketidakstabilan politik global.

Di sisi lain, kenaikan harga mata uang dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan masyarakat pada mata uang tertentu. Dolar AS untuk saat ini menjadi standar mata uang di seluruh dunia. Dan akibat fluktuasi mata uang dolar, berdampak pada melemahnya nilai mata uang dalam negeri.

Mata Uang dalam Sistem Kapitalisme

Uang merupakan pilar penopang ekonomi kapitalisme. Selain menjadi alat tukar, uang diposisikan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Artinya, tinggi rendahnya nilai rupiah sangat dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran di pasar uang.

Upaya Pemulihan

Upaya dalam memulihkan krisis ekonomi yang fluktuatif untuk saat ini pemerintah belum menemukan langkah-langkah strategis dalam mengatasinya. Langkah-langkah yang diberikan hanya sekadar obat penenang sementara, dan terbukti masalah fluktuasi harga terus berulang.

Misalnya langkah pemerintah dengan menaikkan suku bunga sejatinya akan menimbulkan masalah. Pasalnya saat Bank Indonesia (BI) meningkatkan suku bunga acuan, akan diikuti naiknya bunga kredit perbankan yang menahan laju pertumbuhan ekonomi dan investasi dunia usaha. Obat pahit inilah yang akan tetap ada ketika negara bersikukuh dalam mempertahankan sistem kapitalisme. Artinya, negara tetap mempertahankan pasar semu yang elitis, manipulatif, spekulatif, dan destruktif yang semuanya akan membawa pada dampak kesenjangan di masyarakat semakin melebar.

Oleh karena itu, pemerintah seharusnya tidak berputar pada masalah nilai tukar dan upaya tambal sulam yang lain dalam menyelamatkan ekonomi dalam negeri . Akan tetapi, negara harus melakukan koreksi dan komparasi sistem ekonomi kapitalisme sehingga menemukan sistem pengganti.

Baca juga: Emas Penopang Kemandirian Negara

Solusi Islam

Islam memandang uang berfungsi sebagai alat tukar. Untuk itu, Islam memberlakukan mata uang dinar dan dirham. Selain terbukti stabil, hal ini juga sebagai wujud implementasi syariat. Hal ini diindikasikan pada beberapa perintah Allah Swt. terkait satuan mata uang emas dan perak dalam berbagai hukum, diat dan potong tangan misalnya. Atau kewajiban zakat uang dengan mewajibkan nisab yang berstandar emas dan perak.

Mata uang emas juga memiliki keunggulan dari segi fisik yang tinggi di mana nilai nominal dan intrinsiknya sama. Pemberlakuan mata uang dengan nilai riil ini akan mendorong aktivitas spekulatif dan aktivitas pasar yang riil juga. Kemudian pendistribusian kekayaan akan merata, tidak ada pemusatan kekayaan pada segelintir orang saja. Pertumbuhan ekonomi pun akan relatif stabil.

Selain pemberlakuan mata uang dinar dan dirham. Negara berperan dalam menjaga kestabilan harga dengan mekanisme yang telah ditentukan syariat seperti larangan riba, pembatasan harta kepemilikan, mekanisme jaminan distribusi, dll. Berdasarkan keimanan inilah semua transaksi ekonomi dibangun dan ditegakkan.

Negara atau penguasa menjadi elemen yang paling bertanggung jawab dalam menyejahterakan rakyatnya. Dalam Islam, penguasa adalah raa'in (pengurus/pelayan) yang melindungi rakyat dari kesengsaraan hidup.

Rasulullah bersabda,
"Imam adalah pengurus dan ia akan dimintai pertanggung jawaban terhadap rakyat yang diurusinya." (HR. Muslim dan Ahmad)

Untuk itu, negara wajib memenuhi kebutuhan pokok individu masyarakat dengan politik ekonomi melalui mekanisme tertentu. Misalnya membuka lapangan kerja yang luas bagi pencari nafkah. Negara juga berwenang penuh dalam pendistribusian harta dalam zakat, infak atau sedekah sesuai syariat dan diatur dalam APBN berbasis pada baitulmal.

Di kancah perdagangan global, negara menjalankannya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri demi mewujudkan kesejahteraan rakyatnya.

Hubungan dagang dalam Islam dapat dilakukan dengan negara-negara lain secara politik jika negara tersebut terikat perjanjian damai. Hubungan ini semata-mata untuk mendapatkan kemanfaatan dari pertukaran baik dari sisi kebutuhan komoditas atau keuntungan ekonomi. Bukan motif keserakahan untuk menguasai perekonomian luar negeri.

Khatimah

Inilah mekanisme negara Islam dalam mewujudkan ekonomi global yang adil dan sejahtera. Karena itu, Islam akan menjadi rahmatan lil alamin dan bisa dirasakan oleh semua manusia di dunia ketika Islam diterapkan secara menyeluruh baik ekonomi, politik luar dan dalam negeri.

Waallahu a’lam bishowab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Rini
Rini Kontributor Narasiliterasi.id
Previous
MBG, Ladang Basah Korupsi
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram