
Keberhasilan program Sekolah Maung tidak cukup diukur dari jumlah sekolah yang terlibat atau banyaknya prestasi tetapi, ketika semua anak mendapatkan pendidikan yang sama dan sekolah memiliki kualitas layanan setara.
Oleh. BunQii
(Kontributor NarasiLiterasi.Id)
NarasiLiterasi.Id-Dikutip dari tvberita.co.id pada Jumat, 22 Mei 2026, Ketua DPRD Kabupaten Karawang, Endang Sodikin, menyatakan dukungannya terhadap program Sekolah Manusia Unggul (Maung) yang digagas Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Ia menegaskan bahwa program tersebut merupakan langkah awal untuk memastikan sekolah benar-benar menjadi ruang pembentukan “manusia unggul” sekaligus tempat lahirnya peserta didik berprestasi. Ia menyebut, “Program ini kan program awal untuk memastikan betul sekolah ini adalah tempat manusia unggul. Sekolah ini adalah tempat anak-anak berprestasi.”
Pernyataan tersebut menunjukkan adanya optimisme dari pemerintah daerah terhadap arah kebijakan peningkatan kualitas pendidikan. Sekolah Maung diposisikan sebagai upaya strategis untuk menciptakan generasi yang unggul, berprestasi, dan siap menghadapi tantangan zaman. Harapan ini tentu patut diapresiasi di tengah berbagai persoalan pendidikan yang masih terjadi.
Namun demikian, muncul pertanyaan mendasar yang perlu dikaji secara kritis. Apakah Sekolah Maung benar-benar mampu menjadi sarana yang efektif untuk mencetak generasi unggul di Kabupaten Karawang?
Definisi “Generasi Unggul”
Pertanyaan ini penting, karena keberhasilan pendidikan tidak cukup hanya dilihat dari kemegahan program, fasilitas yang modern, atau tingginya prestasi akademik siswa. Pendidikan seharusnya mampu membentuk manusia yang memiliki arah hidup yang benar, karakter yang kuat, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Sayangnya, dalam banyak kebijakan pendidikan saat ini, ukuran generasi unggul sering dibatasi pada kemampuan akademik, penguasaan teknologi, daya saing global, dan kesiapan memasuki dunia kerja. Ukuran tersebut memang penting, tetapi belum cukup untuk menggambarkan manusia secara utuh.
Dalam pandangan Islam, generasi unggul tidak hanya diukur dari kecerdasan intelektual atau kemampuan teknis. Generasi unggul adalah mereka yang memiliki kepribadian Islam, kuat akidahnya, mulia akhlaknya, dan menjadikan syariat sebagai pedoman hidup.
Pendidikan, Akademik, dan Paradigma Keberhasilan
Pendidikan dalam Islam bukan hanya untuk mencetak tenaga kerja yang produktif, tetapi merupakan proses pembentukan manusia yang bertakwa kepada Allah Swt. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt.: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6)
Ayat tersebut menegaskan bahwa tanggung jawab pendidikan tidak hanya pada aspek kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga mencakup pembinaan akidah dan kepribadian. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah melahirkan manusia yang mampu menjaga dirinya dari penyimpangan dan kemaksiatan dengan menjadikan iman sebagai dasar kehidupan.
Jika konsep generasi unggul hanya dibangun di atas ukuran materialistik dan paradigma sekuler yang menempatkan kesuksesan dunia sebagai tujuan utama, maka hasilnya berpotensi tidak utuh. Seseorang bisa saja cerdas dan berprestasi, tetapi lemah secara akidah, mudah terpengaruh pemikiran yang menyimpang, serta kehilangan arah hidup yang benar.
Potensi Ketimpangan dalam Implementasi Sekolah Maung
Persoalan lain terlihat dari pelaksanaan program Sekolah Maung itu sendiri. Berdasarkan informasi yang berkembang, sekolah yang masuk program ini dipilih melalui seleksi berdasarkan prestasi, kualitas sarana dan prasarana, serta kesiapan tenaga pendidik. Artinya, hanya sekolah tertentu yang ditetapkan sebagai sekolah unggulan.
Sekilas, kebijakan ini terlihat baik. Namun, jika dilihat lebih dalam, hal ini dapat menimbulkan masalah. Ketika hanya sebagian sekolah mendapat perhatian lebih besar, sementara sekolah lain tetap dengan keterbatasan, maka yang terjadi bukan pemerataan pendidikan, melainkan munculnya kesenjangan baru.
Kondisi ini dapat membuat dunia pendidikan terbagi menjadi sekolah unggulan dan sekolah yang tertinggal. Padahal, setiap anak memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas tanpa dibedakan oleh status sekolah.
Risiko Terjadinya Kesenjangan Pendidikan
Pendidikan merupakan kebutuhan dasar yang harus dipenuhi negara secara adil. Negara tidak boleh membiarkan adanya perbedaan layanan pendidikan hanya karena perbedaan fasilitas atau status sekolah. Semua peserta didik berhak mendapatkan layanan yang sama baiknya.
Di Kabupaten Karawang sendiri, masih terdapat sejumlah sekolah yang membutuhkan perbaikan ruang belajar, peningkatan kualitas guru, dan dukungan sarana pendidikan. Dalam kondisi seperti ini, kebijakan yang hanya mengunggulkan sebagian sekolah berpotensi memperlebar kesenjangan yang sudah ada.
Jika hal ini dibiarkan, maka tujuan untuk menciptakan generasi unggul justru bisa terhambat oleh ketidakmerataan kualitas pendidikan di lapangan.
Tanggung Jawab Negara dalam Pemerataan Pendidikan
Jika tujuan pemerintah adalah menciptakan generasi unggul, maka yang lebih tepat bukan membangun sekolah unggulan, tetapi memastikan semua sekolah memiliki kualitas yang merata. Tidak boleh ada sekolah yang kekurangan fasilitas sementara yang lain mendapatkan keistimewaan.
Negara juga tidak boleh membiarkan adanya peserta didik yang menerima layanan pendidikan dengan kualitas lebih rendah hanya karena perbedaan sekolah. Semua harus mendapatkan hak yang sama dalam pendidikan.
Dalam perspektif Islam, negara bertanggung jawab penuh dalam menjamin pendidikan yang berkualitas bagi seluruh rakyat. Pendidikan adalah layanan publik yang harus diberikan secara merata tanpa diskriminasi apa pun.
Baca juga: Pro Kontra Pembangunan Sekolah Rakyat
Arah Kebijakan Pendidikan yang Ideal
Karena itu, negara perlu mengembalikan tujuan pendidikan pada fungsi dasarnya, yaitu membentuk kepribadian Islam pada setiap peserta didik. Negara juga wajib memastikan pendidikan gratis dan berkualitas bagi semua warga tanpa terkecuali. Selain itu, seluruh sekolah harus memiliki standar sarana, prasarana, dan tenaga pendidik yang setara. Hal ini penting agar tidak terjadi kesenjangan dalam layanan pendidikan dan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Sudah saatnya pembangunan pendidikan tidak hanya berfokus pada sekolah unggulan yang bisa diakses sebagian kalangan saja. Yang dibutuhkan masyarakat adalah sistem pendidikan yang berkualitas merata di semua sekolah, di semua daerah, dan untuk seluruh anak bangsa.
Pada akhirnya, keberhasilan program Sekolah Maung tidak cukup diukur dari jumlah sekolah yang terlibat atau banyaknya prestasi yang diraih. Keberhasilan sejati adalah ketika semua anak mendapatkan hak pendidikan yang sama dan semua sekolah memiliki kualitas layanan yang setara.
Selain itu, keberhasilan juga terlihat dari lahirnya generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat akidahnya, mulia akhlaknya, dan mampu menjadi pemimpin peradaban yang diridai Allah Swt. Tanpa perubahan mendasar pada tujuan dan sistem pendidikan, program apa pun berisiko hanya menjadi nama baru dari persoalan lama yang belum terselesaikan.
Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















