
Ini adalah alarm terakhir bagi umat Islam. Jika kita tetap diam, jika kita terus berharap pada sistem yang sudah terbukti gagal, maka kita turut bertanggung jawab atas setiap anak Gaza yang tewas.
Oleh. Hanny N
Kontributor NarasiLiterasi.Id
NarasiLiterasi.Id-Bayangkan seorang anak berusia dua tahun sedang bermain di halaman rumahnya. Tiba-tiba, peluru tajam menembus dadanya. Ia tewas seketika. Bukan di medan perang. Bukan karena serangan balasan. Namun, sengaja ditembak oleh pasukan Israel saat berada di dalam rumahnya sendiri. Kejadian ini bukan fiksi. Ini adalah realitas yang dilaporkan UNICEF pada Juni 2026: sejak gencatan senjata Oktober 2025, rata-rata satu anak Palestina tewas setiap hari di Gaza. Di dalam rumah, di sekolah, di tenda pengungsian, bahkan saat mereka memancing atau bermain sepak bola.
Dunia menyebutnya "gencatan senjata." Bagi anak-anak Gaza, itu adalah ilusi yang mematikan.
Fakta yang Tak Bisa Dibantah
Laporan Komisi Penyelidikan Independen PBB (UN COI) yang dirilis 23 Juni 2026 menyatakan dengan tegas: Israel sengaja menargetkan anak-anak Palestina sebagai bagian dari genosida. Sejak 7 Oktober 2023, lebih dari 20.179 anak tewas dan 44.143 anak terluka di Jalur Gaza dan Tepi Barat. Angka ini bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka ada nama, ada mimpi yang terkubur, ada masa depan yang dirampas. (aljazeera.com, 19-6-2026)
Yang lebih mengerikan, pembunuhan tidak berhenti setelah gencatan senjata. Komisi PBB mendokumentasikan kasus-kasus di mana tentara Israel menembak jatuh anak-anak dengan drone quadcopter, penembak jitu, bahkan melempar granat ke dalam rumah berisi 30 anggota keluarga, termasuk seorang ibu hamil tujuh bulan dan anak laki-lakinya yang berusia lima tahun.
UNICEF melaporkan bahwa anak-anak yang selamat mengalami luka fisik parah, kehilangan anggota tubuh, kerusakan otak, trauma psikologis yang mendalam. Banyak yang tidak bisa makan, tidak bisa tidur, dan tumbuh dengan ketakutan yang melekat di setiap sel tubuh mereka. "Esensi masa kanak-kanak telah dihancurkan," demikian judul laporan PBB.
Mengapa Anak-Anak?
Pertanyaan ini menggema di hati setiap Muslim yang masih memiliki rasa. Mengapa entitas Zionis begitu terobsesi menghabisi anak-anak?
Jawabannya terletak pada strategi genosida yang terstruktur. Dalam laporannya, Komisi PBB menyimpulkan: "Dengan menargetkan anak-anak, Israel menyerang kapasitas bangsa Palestina untuk eksis dan menentukan masa depannya." Anak-anak adalah pembawa identitas kolektif, keberlanjutan demografis, dan harapan bangsa. Hancurkan anak-anak, hancurlah masa depan bangsa itu sendiri.
Ini bukan konflik biasa. Ini adalah perang generasional. Yaitu, upaya sistematis untuk menghapus keberadaan Muslim Palestina dari muka bumi demi mewujudkan ambisi "Israel Raya" yang merenggut seluruh wilayah Palestina.
Cerminan Sejarah: Anak-Anak dalam Perjuangan Islam
Sejarah Islam tidak asing dengan pembunuhan anak-anak oleh musuh. Di Perang Uhud, seorang wanita Quraisy bernama Hindun binti Utbah membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib dan mengoyak hatinya. Namun yang lebih keji, di masa Jahiliyah, bangsa Arab mengubur anak perempuan hidup-hidup karena aib. Al-Qur'an mencela keras perbuatan itu, "Dan apabila kepada salah seorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah. Ia menyembunyikan dirinya dari orang banyak karena (malu mendapat) kabur buruk yang disampaikan kepadanya, (sambil memikirkan) apakah dia akan memeliharanya dengan (menanggung) aib atau menguburkannya ke dalam tanah. Ketahuilah, sungguh buruk apa yang mereka tetapkan itu." (QS. An-Nahl: 58-59)
Namun Islam datang menghapus kebiadaban itu. Nabi Muhammad ï·º mengangkat derajat anak-anak. Beliau memeluk Hasan dan Husain, mencium mereka, dan bersabda, "Barangsiapa yang memelihara dan membesarkan dua orang anak perempuan hingga mereka dewasa, maka aku dan dia akan berada di surga seperti ini," sambil beliau mengisyratkan jari telunjuk dan jari tengahnya." (HR. Muslim)
Islam melindungi anak sebagai amanah. Membunuhnya adalah kejahatan terbesar. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar." (QS. Al-Isra': 31)
Di masa Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, seorang Muslim menemukan seorang anak yatim piatu di jalan. Umar langsung mengambil tanggung jawab atasnya, mengatakan, "Islam menghancurkan Jahiliyah, dan Jahiliyah tidak boleh kembali." Khilafah pada masa itu bukan sekadar pemerintahan. Ia adalah benteng yang melindungi setiap anak, setiap wanita, dan setiap jiwa yang lemah.
Kegagalan Sistem Dunia
Lalu, di mana dunia? PBB telah mengeluarkan puluhan resolusi. Mahkamah Internasional (ICJ) telah mengeluarkan opini advisory. Komisi HAM PBB telah menyebutnya genosida. Namun, apa hasilnya? Nihil. Israel terus membunuh. Gencatan senjata hanya menjadi kata-kata kosong.
Harapan pada pergantian Perdana Menteri Israel? Lupakan. Netanyahu atau siapapun penggantinya, ideologi Zionis tetap sama: tanah lebih luas, bangsa Palestina lebih sedikit.
Harapan pada dunia Islam? Sayangnya, banyak negara Muslim justru makin merapat pada AS dan entitas Zionis, terjebak dalam nasionalisme sempit, politik kapitalistik, dan kepentingan dagang yang mengaburkan solidaritas umat. Mereka memiliki jet tempur, tank, dan tentara, tetapi tidak memiliki keberanian untuk bergerak demi membebaskan saudara-saudara mereka.
Dunia telah membuktikan: sistem internasional gagal. Sistem nasionalisme gagal. Satu-satunya yang belum dicoba secara serius adalah Khilafah.
Khilafah: Harapan yang Terlupakan
Khilafah bukanlah khayalan utopis. Ia adalah sistem politik Islam yang pernah melindungi Palestina selama 1.300 tahun. Ketika kaum Muslimin memiliki Khilafah, tidak ada entitas Zionis yang berani menginjakkan kaki di tanah Palestina. Bukan karena Muslim lemah, tetapi karena Khilafah adalah kekuatan yang diperhitungkan.
Khilafah adalah institusi yang mewajibkan jihad fi sabilillah untuk membebaskan tanah Muslim yang diduduki. Bukan jihad terorisme, tetapi jihad negara yang melindungi jiwa, harta, dan kehormatan umat. Khilafah tidak mengenal batas nasionalisme, seluruh umat adalah satu tubuh. Seperti sabda Nabi ï·º, "Sesungguhnya orang-orang beriman dalam kasih sayangnya, saling mengasihi, dan menyayangi antara satu dengan yang lain seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka seluruh tubuh yang lain juga merasakan susah tidur dan demam." (HR. Bukhari & Muslim)
Khilafah akan melindungi anak-anak Palestina bukan hanya dari peluru, tetapi juga memastikan mereka memiliki pendidikan, kesehatan, kesejahteraan, dan masa depan yang cerah. Khilafah adalah qadhiyah masiriyah umat, masa depan umat yang harus diperjuangkan penegakannya.
Bangkitkan Pemikiran, Bangkitkan Aksi
Laporan PBB 2026 bukan akhir cerita. Ini adalah alarm terakhir bagi umat Islam. Jika kita tetap diam, jika kita terus berharap pada sistem yang sudah terbukti gagal, maka kita turut bertanggung jawab atas setiap anak Gaza yang tewas.
Allah Swt. berfirman, "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang berdoa: 'Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari kota ini yang zalim penduduknya…" (QS. An-Nisa': 75)
Saatnya kita berhenti menjadi penonton. Saatnya kita kembali pada solusi Islam—Khilafah. Bukan sebagai slogan, tetapi sebagai visi politik yang nyata, yang melindungi anak-anak, membebaskan tanah, dan mengembalikan kehormatan umat.
Karena anak Gaza tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh aksi. Dan aksi sejati dimulai dari pemikiran yang benar.
Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

















