Ekonomi Sulit, Hidup Makin Terhimpit

Ekonomi sulit hidup makin terimpit

Solusi dari masalah ketenagakerjaan ini tidak hanya tentang perbaikan sistem ekonomi, tetapi juga perlu perbaikan fondasi pendidikan dan sistem politiknya.

Oleh. Aurum
Kontributor NarasiLiterasi.Id dan Praktisi Kesehatan

NarasiLiterasi.Id-May day atau hari buruh yang rutin diperingati setiap tanggal 1 Mei menjadi ajang para buruh menyuarakan keresahan, tuntutan, dan harapannya kepada pemerintah. Terlebih pada kebijakan yang telah dikeluarkan pemerintah juga harapan pada kebijakan baru yang berpihak pada para buruh.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Ely Rosita Silaban, Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI). Ia mengatakan percaya pada Bapak Presiden Prabowo mengenai UU Ketenagakerjaan, bahwa Presiden melihat buruh sebagai kaum yang sangat membutuhkan tentang peraturan kontrak pengupahan dan outsourcing. (antaranews.com, Jum’at, 1-5-2026)

Di balik meriahnya perayaan hari buruh yang tidak seperti hari buruh biasanya, ada pesta yang begitu meriah yang diadakan, selain tuntutan dan harapan para buruh kepada pemerintah. Hal ini seakan untuk meredam gejolak hati para buruh.

Fakta Ketenagakerjaan

Ironi yang banyak luput adalah fakta bahwa dalam struktur ketenagakerjaan Indonesia didominasi oleh sektor informal. Di mana memiliki kualitas pekerjaan yang rendah, seperti Pedagang Kaki Lima (PKL), pekerja lepas (Freelancer), buruh tani, Asisten Rumah Tangga (ART), tukang ojek/pengemudi transportasi online, pedagang asongan, pedagang keliling, pemulung, dsb.

Di samping itu, ketimpangan antara lapangan pekerjaan dan pencari kerja begitu nyata. Sehingga, membuat daya tawar para pencari kerja menjadi rendah. Alhasil, para lulusan profesional pun digaji seadanya, jauh dari kata layak. Adapun untuk yang tidak bisa mendapatkan pekerjaan di sektor formal memilih membuka usaha sendiri (UMKM). Mereka pun mengalami tantangan yang tidak mudah. Hal tersebut berkaitan dengan turunnya daya beli masyarakat yang juga berdampak pada perputaran uang pada para pelaku UMKM.

Di sisi lain, untuk menambah lapangan pekerjaan agar para pencari kerja dapat terserap lebih banyak, munculah gig yaitu sistem ekonomi yang berbasis pada kontrak jangka pendek, pekerjaan lepas (freelance), atau proyek mandiri. Di mana pekerja (gig workers) mendapatkan penghasilan tanpa ikatan kerja tetap. Namun, kekurangannya adalah para pekerja tidak memiliki jaminan sosial dan tidak jelasnya relasi kerjanya dengan pemilik modal. Akibatnya, para pekerja gig ini tidak memiliki kejelasan karir dan tidak terjamin kelangsungan dalam pekerjaannya.

Bobroknya Sistem Ekonomi Kapitalisme

Makin terbatasnya lapangan pekerjaan dan sedikitnya penyerapan pencari kerja, mengakibatkan meningkatnya angka pengangguran. Itu menjadi bukti bahwa pemerintah telah gagal memberikan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya.

Dalam sistem ekonomi kapitalisme, ia membiarkan alat produksi dan distribusi di privatisasi oleh swasta, atau individu para pemilik modal untuk menghasilkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Dalam hal ini, peran negara sangat minim, bahkan dalam kapitalisme pemilik modal bekerjasama dengan penguasa untuk melancarkan bisnisnya. Maka itu, setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah hanya akan berpihak pada para pemilik modal. Rakyat bukan prioritas yang harus diurus dan dijamin kesejahteraannya.

Dalam sistem kapitalisme, rakyat tidak dipandang sebagai manusia, melainkan komoditas. Sehingga, dengan berbagai cara harus memberikan keuntungan. Jika tidak memberikan keuntungan atau bahkan menghalangi kepentingan para kapitalis, maka akan disingkirkan dengan segala cara.

Dengan demikian, dalam kapitalisme kesenjangan adalah sebuah keniscayaan. Kesenjangan yang begitu terasa adalah kesenjangan ekonomi di mana sulitnya mendapat pekerjaan yang layak, sehingga membuat perputaran ekonomi melambat akibat daya beli menurun. Alhasil, jarak antara si miskin dan si kaya makin jauh.

Sebuah penelitian dari Oxfam yang dirilis januari 2026 lalu mengatakan bahwa kekayaan 12 orang terkaya di dunia sama dengan kekayaan 4 milyar orang. Maka, kesejahteraan bagi seluruh rakyat, pekerjaan yang layak, hidup aman dan nyaman hanyalah angan. Karena sistem kapitalisme berdiri di atas kepentingan individu pemilik modal, untuk keuntungan segelintir orang, bukan untuk kesejahteraan rakyat.

Baca juga: May Day dan Kesejahteraan Buruh

Sistem Ekonomi Islam

Islam memandang rakyat sebagai manusia yang harus diurus dan dijamin kehidupannya. Karena dalam Islam, pemimpin adalah pelayan, sehingga harus memastikan bahwa rakyat yang dipimpinnya dapat hidup layak, aman, dan nyaman. Oleh karena itu, menyediakan lapangan pekerjaan yang layak merupakan salah satu kewajibannya.

Hal tersebut sesuai dengan terjemah HR. Bukhari dan Muslim yaitu, “Imam (pemimpin/kepala negara) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang ia urus.” Dari hadis di atas menegaskan bahwa pemimpin wajib menyediakan lapangan pekerjaan bagi rakyatnya. Bahkan, dalam Islam bukan hanya sekadar pekerjaan, akan tetapi pemimpin harus memastikan bahwa setiap laki-laki dewasa memiliki pekerjaan yang layak dan bekerja sesuai dengan bidang keahliannya, agar bisa menafkahi keluarganya. Sehingga perannya sebagai qowwam dan wibawanya sebagai kepala keluarga terjaga.

Di samping itu, dalam Islam kewajiban negara bukan hanya menyediakan lapangan pekerjaan dan memastikan para lelaki dewasa bekerja sesuai dengan bidang yang dikuasainya, tetapi juga mengatur hak dan kewajiban antara pemberi kerja dan penerima kerja. Hal ini mencegah timbulnya masalah seperti upah, jam kerja, status kerja atau relasi antara pekerja dan pemberi kerja. Hal tersebut dibangun dengan akad asas keridaan.

Selain itu, solusi dari masalah ketenagakerjaan ini tidak hanya tentang perbaikan sistem ekonomi, tetapi juga perlu perbaikan fondasi pendidikan dan sistem politiknya. Di mana sistem tersebut bisa memfasilitasi terbentuknya tatanan masyarakat yang berpendidikan, maju secara teknologi dan ilmu pengetahuan, sejahtera secara ekonomi dan menjaga sumber daya alam yang telah dianugerahkan Allah sebagai penciptanya. Semua itu hanya dapat terwujud dengan diterapkannya sistem Islam secara menyeluruh yang dijalankan dalam suatu institusi negara.

Khatimah

Dengan sistem Islam, kesenjangan si miskin dan si kaya menjadi tiada. Laki-laki dewasa menjalankan kewajiban dan fitrahnya sebagai lelaki dewasa, sumber daya alam terjaga, masyarakatnya terdidik secara tauhid dan akhlaknya. Kemudian, setiap kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan bertujuan untuk mendukung dan mempermudah setiap aktivitasnya untuk lebih khusyuk beribadah kepada Allah, Sang Pencipta yang telah menganugerahkan bumi dan isinya dengan segala potensi yang dikaruniakanNya. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Aurum Kontributor NarasiLiterasi dan Praktisi Kesehatan
Previous
UU PPRT: Cermin Kegagalan Sistem
Next
Mayday for May Day
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram