
Penderitaan yang melanda Tepi Barat dan Gaza bukan sekadar krisis kemanusiaan lokal, melainkan ujian akidah dan indikator kehormatan seluruh umat Islam di dunia.
Oleh. Tinie Andriyani
(Kontributor NarasiLiterasi.Id dan Aktivis Muslimah)
NarasiLiterasi.Id-Kondisi wilayah Tepi Barat dan Gaza belakangan ini kian memperlihatkan intensitas kejahatan yang tak kunjung mereda. Di tengah sorotan dunia yang sering kali tertuju pada konflik fisik terbuka, proses perampasan tanah dan penghancuran ruang hidup rakyat Palestina berlangsung secara terus menerus dan terstruktur. Eskalasi tindakan aneksasi serta pola penjajahan bentuk baru kini melanda dua wilayah penting Palestina secara bersamaan. Hal ini menegaskan bahwa ambisi kolonial entitas Zionis tidak pernah surut meski dihujani kecaman internasional.
Ambisi "Israel Raya"
Fakta dilapangan, aneksasi wilayah Tepi Barat terus meluas melalui ribuan bentuk serangan, ancaman, hingga teror sistematis yang dilancarkan oleh para pemukim ilegal dengan dukungan penuh otoritas militer. Penghancuran puluhan tempat ibadah seperti masjid mencapai rekor yang sangat memprihatinkan. Disusul dengan rencana legalisasi dan pembangunan lebih dari 2.300 unit perumahan ilegal baru di wilayah Yerusalem Timur serta Tepi Barat. Pada saat yang sama, proyek pemulihan yang diwacanakan melalui kerangka New Gaza berbasis kesepakatan Board of Peace (BoP) semakin masif digulirkan sebagai jalan keluar ekonomi di atas puing puing kehancuran. (metrotv.news, 6-8-2026)
Dari fakta tersebut, analisis mendalam menunjukkan bahwa perluasan aneksasi akan terus berlangsung tanpa memedulikan resolusi PBB maupun penolakan masyarakat internasional. Hukum internasional dan panggung diplomasi global telah terbukti mandul menghadapi kedegilan Zionis. Tindakan ini menjadi bukti riil betapa seriusnya agenda entitas Zionis dalam mewujudkan doktrin "Israel Raya" (Greater Israel). Sebuah proyek ekspansionis yang bercita-cita menguasai seluruh bentangan tanah Palestina dan sekitarnya. Dalam skenario geopolitik ini, kemerdekaan Palestina yang berdaulat secara hakiki tidak akan pernah diberikan oleh entitas Zionis karena bertentangan dengan proyek ekspansi tersebut. Ketiadaan iktikad baik ini secara tidak langsung menegaskan bahwa solusi dua negara (two state solution) yang terus digaungkan oleh Barat hanyalah ilusi geopolitik, alat pengalihan isu, dan jebakan diplomasi yang mustahil disepakati secara tulus.
Wajah Ganda Imperialisme Modern
Lebih jauh lagi, proyek New Gaza melalui skema Board of Peace (BoP) mengungkap wajah ganda imperialisme modern. Setelah Gaza dihancurkan secara sistematis melalui genosida dan pembumihangusan infrastruktur, panggung rekonstruksi justru dijadikan ladang bisnis baru yang sangat menguntungkan bagi barat, khususnya Amerika Serikat. Strategi BoP sejatinya merupakan bentuk penjajahan gaya baru (neo kolonialisme) berbasis kapitalisme pasar bebas. Atas nama "perdamaian" dan "rekonstruksi ekonomi", kedaulatan warga Gaza diamputasi. Sedangkan kendali atas wilayah, sumber daya, dan tata kelola ekonomi diserahkan kepada konsorsium asing. Gaza yang berdikari sengaja dimatikan untuk digantikan dengan New Gaza yang dependensi dan tunduk pada kepentingan geokorporasi Amerika dan sekutunya.
Baca juga: Gaza: Matinya Hukum Internasional
Akar Masalah Pendudukan
Menurut perspektif Islam, akar masalah utama di Palestina adalah pendudukan oleh entitas Zionis yang ditopang oleh sistem kapitalisme global. Oleh karena itu, jalan diplomasi kompromistis, meja perundingan, maupun mengandalkan lembaga internasional seperti PBB terbukti tidak pernah mampu menghentikan kebrutalan kolonialisme. Zionis Israel adalah entitas perampas yang tidak mengenal bahasa diplomasi, melainkan hanya tunduk pada bahasa kekuatan. Maka dari itu, jihad fi sabilillah serta mobilisasi kekuatan militer dari negeri negeri Muslim merupakan kunci utama. Ini adalah satu satunya solusi bagi pembebasan tanah Palestina secara menyeluruh dari pendudukan. Rasulullah saw. bersabda terkait kewajiban mendasar untuk membela keselamatan, tanah air, dan kehormatan sesama Muslim:
"Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, ia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya disakiti (ditelantarkan)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Selain kekuatan fisik dan militer, perlawanan pemikiran (shira'ul fikri) juga sangat krusial. Topeng diplomasi palsu seperti Board of Peace (BoP) harus terus dibongkar secara terbuka di hadapan kesadaran umat. Langkah ini penting agar kaum Muslimin tidak terkecoh atau terjebak dalam arus opini menyesatkan. Opini yang mendorong para penguasa mereka untuk berkolaborasi dengan skema imperialisme Barat tersebut. Sikap sebagian penguasa Muslim yang memilih jalan "normalisasi", berkompromi, atau membiarkan tanah suci Palestina diserahkan pada mekanisme bisnis asing pada hakikatnya merupakan sebuah bentuk pengkhianatan terbesar terhadap amanah Allah, Rasul-Nya, serta darah para syuhada. Allah Swt. mengingatkan dalam Al-Qur'an:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui." (QS. Al-Anfal: 27)
Urgensi Kesadaran Politik
Oleh sebab itu, kesadaran politik (wa'yu siyasi) umat harus terus ditumbuhkan secara sistematis. Pembebasan Palestina tidak cukup hanya dibantu dengan doa dan bantuan kemanusiaan, melainkan memerlukan institusi kepemimpinan politik global yang sanggup menyatukan seluruh potensi militer, ekonomi, dan demografi dunia Islam di bawah naungan sistem Khilafah Islamiyah. Persatuan politik ini wajib diperjuangkan secara konsisten dan tanpa kompromi melalui aktivitas dakwah politis (da'wah siyasiyah) guna mewujudkan kembali junnah (perisai) pelindung umat, sebagaimana firman Allah Swt.: "Dan berpegangteguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…" (QS. Ali 'Imran: 103)
Mengakhiri Ilusi Perdamaian Buatan Barat
Penderitaan yang melanda Tepi Barat dan Gaza bukan sekadar krisis kemanusiaan lokal, melainkan ujian akidah dan indikator kehormatan seluruh umat Islam di dunia. Menggantungkan harapan pada lembaga internasional maupun janji-janji diplomasi dari negara penyokong Zionis hanya akan memperpanjang usia penjajahan dan memperbanyak korban jiwa.
Sudah saatnya umat Islam membuang jauh jauh ilusi perdamaian buatan Barat dan kembali pada solusi mendasar yang berakar dari sistem Islam yakni menggalang persatuan politik yang nyata, menolak segala bentuk kompromi dan skema bisnis yang merugikan Palestina, serta memperjuangkan kembali kepemimpinan Islam yang berani mengerahkan seluruh kekuatannya demi membebaskan Al-Quds dan tanah para nabi secara mutlak. Wallahualam bissawab. []
Disclaimer
www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com
















