Sistem Kapitalis Biang Keladi Mahalnya BBM

Sistem Kapitalisme biang keladi Mahalnya BBM

Kekayaan minyak yang berlimpah ini justru dikelola oleh swasta. BBM menjadi komoditas yang diperjualbelikan bukan untuk kesejahteraan rakyat.

Oleh. Ummu Aidzul
Kontributor NarasiLiterasi.Id

NarasiLiterasi.Id-Bulan Juni ini bisa jadi momen yang paling "wow" bagi rakyat Indonesia. Sebelumnya dikejutkan dengan berita melemahnya nilai mata uang Rupiah atas Dolar Amerika. Sekarang dibuat terkejut kembali dengan kenaikan harga BBM jenis pertamax hampir sebesar Rp4.000. Sebelumnya harga Pertamax Rp12.300 kini naik menjadi Rp16.250. Sementara jenis BBM Pertamax Green naik dari semula Rp12.900 menjadi Rp17.000. Kenaikan harga ini ditetapkan mulai tanggal 10 Juni 2026. (BBC News Indonesia, 10-06-2026)

Pemerintah berdalih kenaikan harga BBM non subsidi ini mengikuti tren kenaikan harga dunia akibat perang yang sedang terjadi.

Menteri Keuangan berargumen kenaikan harga BBM jenis ini tidak akan berdampak pada kenaikan harga barang-barang. Namun menurut pengamat ekonomi kenaikan ini akan sangat memengaruhi kepada perekonomian kelas menengah, karena merekalah konsumen BBM nonsubsidi. Ini akan mengakibatkan konsumen beralih kepada BBM subsidi. Sehingga akan terjadi kelangkaan akibat jumlah permintaan yang bertambah sedangkan persediaannya dibatasi.

Kondisi naiknya harga BBM akan melemahkan daya beli masyarakat. Karena sebagian besar penghasilan digunakan untuk biaya transportasi, sehingga masyarakat akan mengurangi biaya untuk konsumsi yang lain.

Kenaikan harga BBM: Salah Kelola Kapitalistik

Bahan Bakar Minyak atau BBM adalah barang pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Keberadaannya dibutuhkan sebagai sumber utama berjalannya moda transportasi. Karena transportasi berkaitan dengan pergerakan barang dan jasa. Masyarakat yang pergi bekerja, belajar maupun melakukan aktivitas menjual barang membutuhkan BBM dalam aktivitas sehari-harinya. Maka kenaikan harganya tentu menambah kesulitan bagi masyarakat banyak. Kenaikan ini juga berpengaruh pada kenaikan harga barang yang lain. Sebelumnya harga-harga naik akibat kenaikan nilai tukar dolar, kini kenaikan harga diperkirakan akan terjadi lagi karena kenaikan harga BBM.

Di sisi lain, negeri indah ini sangat kaya dengan Sumber Daya Alam salah satunya minyak bumi. Minyak bumi atau petroleum inilah yang menjadi bahan baku BBM. Wilayah Indonesia yang menghasilkan minyak bumi tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sedangkan wilayah penghasil minyak bumi terbesar ada di Riau (Blok Rokan), Kalimantan Timur (Blok Mahakam) dan Jawa Timur (Blok Cepu dan Sukowati).

Pada tahun 2014 Indonesia termasuk 25 negara penghasil minyak Bumi terbesar di dunia dan memiliki 4,4 miliar barel minyak cadangan. Bahkan bersumber dari Trading Economic (Katadata), termasuk 10 besar diantara negara G20 dengan produksi srbesar 644 ribu barel perhari pada September 2021.

Namun, jika kita lihat persebaran wilayah penghasil minyak bumi ini justru dikuasai oleh swasta dan asing. Contohnya wilayah Riau yang merupakan wilayah penghasil minyak bumi terbesar di Indonesia Sumber Daya Alamnya dikelola oleh Chevron, Petroselat, Bumi Siak Pusako, Pertamina, Kondur Petroleum, dan Pembangunan Riau.

Papua Barat pada tahun 2021 mampu menghasilkan minyak bumi sebanyak 14.811 barel perhari. Eksplorasi minyak di sana dikelola oleh Petrochina, Pertamina dan Petroleum.

Penguasaan Kepemilikan Umum Oleh Swasta

Maka sungguh miris ketika kekayaan minyak yang berlimpah ini justru dikelola oleh swasta. Akhirnya masyarakat tidak bisa memperoleh BBM dengan harga terjangkau, tetapi justru harga yang kian melambung. BBM justru menjadi komoditas yang diperjualbelikan bukan untuk kesejahteraan rakyat.

Ini disebabkan dalam sistem ekonomi kapitalis yang mengizinkan penguasaan atau pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) oleh segelintir orang maupun oleh negara asing. Padahal kondisi ini bertentangan dengan dasar negara yakni UUD 1945 pasal 33 ayat 3 yang berbunyi "Bumi, dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat."

Penerapan ekonomi kapitalis juga mengakibatkan Indonesia bergantung kepada negara asing dalam pemenuhan BBM ini. Akibatnya ketika terjadi perang Iran dan Amerika bisa mengganggu stabilitas persediaan BBM dalam negeri. Ini menunjukkan lemahnya kedaulatan energi dalam negeri.

Baca juga: Polemik BBM di Negeri Kaya Minyak

Pengelolaan SDA dalam Islam

Berbeda dengan pandangan Islam atas BBM. Islam mengenal berbagai kepemilikan yakni kepemilikan individu, umum dan negara. BBM atau minyak bumi termasuk kepada kepemilikan umum. Ini disandarkan pada sabda Rasulullah saw.:
"Kaum Muslim berserikat dalam 3 hal air, padang rumput dan api." (HR Ibnu Majah)

Kepemilikan umum maknanya bahwa benda ini dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan bersama. Tidak boleh dikuasai oleh individu. Namun, dikelola negara untuk kesejahteraan rakyat. Maka minyak bumi yang dimiliki oleh negara ini adalah hak rakyat Indonesia untuk merasakan nya dengan memperoleh nya dengan harga semurah-murahnya. Karena BBM ini digunakan oleh masyarakat banyak untuk menunjang kehidupan sehari-harinya.

Sistem Islam dengan mekanisme baitulmal akan mewujudkan hal tersebut. Pos kepemilikan umum ini adalah pos pemasukan terbesar negara Islam. Ketika negara mengelola sendiri, maka keuntungan yang besar akan diperoleh negara. Sedangkan kepada rakyat, negara akan memberikan harga yang semurah-murahnya karena memang milik rakyat.

Penerapan sistem ekonomi kapitalistik ini tidak akan mewujudkan BBM murah bagi rakyat, tak akan mampu juga mewujudkan kedaulatan energi pada suatu negara. Maka, hanya penerapan sistem Islam secara menyeluruh yang akan mewujudkan itu semua. Wallahualam bissawab. []

Disclaimer

www.Narasiliterasi.id adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya.  www.Narasiliterasi.id melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.Narasiliterasi.id. Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia@gmail.com

Ummu Aidzul Kontributor Narasi literasi.Id
Previous
Harga Pertamax Naik, Nasib Rakyat Kian Terhimpit
Next
Nilai Mata Uang Melemah, Menambah Beban Rakyat
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
bubblemenu-circle
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram